Arogansi PT. KKU Picu Amarah, Warga Sungai Jalau: Cabut Izin Operasional Mereka!

SUNGAIJALAU-NARASIRIAU.ID-Berharap mendapatkan solusi, masyarakat Sungai Jalau justru harus menelan pil pahit saat menggelar aksi protes di wilayah kerja PT KKU pada Jumat (27/2/2026). Niat warga untuk berdialog secara sehat justru dibalas dengan sikap arogan pihak manajemen perusahaan yang memicu ketegangan di lapangan.


Kekecewaan warga memuncak setelah perusahaan bersikeras merasa telah bekerja sesuai prosedur, meski realita di lapangan menunjukkan sebaliknya. Isu paling krusial yang mencuat adalah dugaan penyerobotan lahan secara sepihak yang melanggar kesepakatan awal dengan perangkat desa dan masyarakat setempat.


Ekosistem Hancur, Warga Menjerit

Operasional PT KKU yang berlangsung 24 jam nonstop dinilai telah membawa petaka bagi lingkungan sekitar.

Berdasarkan pantauan di lokasi aksi, terdapat empat poin kritis yang menjadi sorotan tajam warga:


1.Krisis Air Massal: Sawah warga mengalami kekeringan total dan gagal panen akibat pemutusan aliran sungai demi kepentingan pembuangan limbah. Tak hanya itu, sumur-sumur warga pun mulai mengering.


2. Sungai Beracun: Limbah tambang mengakibatkan air sungai keruh pekat. Hilangnya ekosistem ikan dan tidak bisa digunakannya air sungai untuk MCK.


3. Teror Jalan Rusak: Armada Over Dimension Over Load (ODOL) milik perusahaan menghancurkan infrastruktur desa, meninggalkan jalan berlubang dan polusi debu yang mengancam kesehatan pernapasan.


4. Lubang Maut: Bekas galian yang ditinggalkan tanpa reklamasi kini menjelma menjadi danau-danau dalam yang mengancam nyawa, ditambah adanya titik-titik longsor di perbatasan galian.


Desakan Cabut Izin: "Perusahaan Lebih Banyak Mudarat"

Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan, warga secara tegas mendesak pemerintah untuk segera mencabut izin operasional PT KKU. Kehadiran perusahaan ini dianggap tidak memberikan manfaat nyata bagi ekonomi warga, melainkan justru menghancurkan ruang hidup mereka.


"Kami tidak butuh janji manis, kami butuh lingkungan kami kembali. Jika pemerintah diam melihat arogansi ini, maka pemerintah turut mengamini penderitaan kami," ujar salah satu koordinator aksi di tengah massa.


Warga berharap pemerintah pusat maupun daerah tidak menutup mata dan segera mengambil langkah drastis untuk menjamin keselamatan rakyat serta memulihkan ekosistem Sungai Jalau yang kian sekarat.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama